Friday, April 22, 2022

Selamat Tinggal Masa Lalu

2018, di akhir tahun itu, aku mulai mengenalmu, saat itu percakapan antara kita mulai ada sejak aku mulai sering ber tukar pesan dengan sahabatmu, dan niat awalku mengenalmu hanyalah sekedar untuk tau lebih jauh tentang sahabatmu, aku sering bercerita saat aku di chat oleh sahabatmu itu, mulai dari sekedar basa basi dengannya hingga perhatian-perhatian kecil yang sering dia beri kepadaku.

Namun, seiring berjalannya waktu, entah mengapa, yang kurasapun mulai berubah, perhatian yang semakin sering aku terima bukanlah dari sahabatmu melainkan dari sosok dirimu. tak butuh waktu lama, kamu semakin bisa membuat aku menjadi nyaman dan semakin tidak bisa melewatkan sedikit waktuku tanpa ada pesan darimu.

Semakin hari, aku semakin dekat denganmu. 2019, awal mulai ku meninggalkan sahabatmu, bukan karena perasaanku, tapi karena sahabatmu yang ternyata sudah memiliki seorang kekasih, hingga aku tak bisa memungkiri jauh sebelum ku tau mengenai itu, perasaanku sudah terikat kepadamu. Dimulai dari pesan yang berisi perhatian-perhatian yang kamu tunjukkan secara tidak langsung untukku hingga panggilan wa yang sering kita lakukan.

Yaaa,, semakin aku sering bertelepeon denganmu, semakin aku nyaman dan ingin mengenalmu lebih jauh, namun semua masih tertutup, hanya rekan kerjaku yang tau bahwa tanpa kusadari aku sudah terpikat dan jatuh cinta kepadamu. Setiap istirahat kerja, perjalanan pulang kerja bahkan disetiap waktu senggangku aku selalu meneleponmu, dan tak pernah sekalipun kamu tak mengangkat telepon dariku.

Betapa bahagiaku, saat kamu mempersilahkan ku mengunjungi keluargamu untuk bertemu ibumu dan adik-adikmu, disitu aku merasa keluargamu sangatlah menyambut baik dan menerima kehadiranku, tanpa segan, aku jadi sering mengunjungi rumahmu, walau hanya sekedar untuk tahu kabar ibumu, karena beliau sangat senang menceritakan semua keluh kesahnya kepadaku.

Bulan berganti bulan, kedekatan itu semakin terasa, hingga muncul sebuah problema dalam keluargamu, yang bisa membuat ibumu sangat terpukul, entah dorongan apa yang membuatku tak bisa berhenti untuk terus kerumahmu hanya untuk menghibur hati ibumu.

PEMILU 2020, agenda ini yang membuatku semakin senang karena kamu diminta untuk jd PPS dan mendata warga yang ada di daerah rumahku, dan KPPS saat itu meminta agar aku mendampingimu dalam mendata warga, aku merasa sangat bahagia karena dengan itu aku akan semakin sering berada di dekatmu.

Akhir pendataan, aku memintamu untuk menemaniku beli cincin untukku pribadi, dan kamu menyanggupinya, saat kamu bersedia menjemputku, sungguh rasa itu semakin terasa, saat ku duduk dibelakangmu, bau parfummu, membuatku makin tak ingin melepasmu.

27 Desember 2020, aku tertegun, dimana saat aku sakit karena terlalu memikirkanmu, ibuku datang dan tepat saat ibu kuberi hadiah kecil-kecilan dihari ulang tahunnya, ibu mengucapkan keinginannya, Beliau ingin melihat aku segera menikah, dan ibu berharap aku bisa bersanding denganmu.

31 Desember 2020, duka mendalam yang kurasakan, saat orang yang aku cintai pergi, Ibuku, orang yang sangat mengharapkan aku bisa bersanding denganmu, menghembuskan nafas terakhirnya tepat dimalam pergantian tahun yang seharusnya bisa jadi moment bahagiaku dimana saat itu aku berencana ingin mengundangmu makan bersama dengan keluargaku.

Kamu tak datang, padahal aku harap kamu datang menenangkanku. Baru ketika ada rekan organisasiku takziah, kamu baru datang untuk memberikan doa untuk Almarhumah Ibuku, tidak apa-apa, setidaknya masih ada rasa pedulimu untukku.

Waktu terus berlalu, namun entah mengapa kamu mulai membatasi komunikasimu denganku, aku merasa sangat kehilangan sosok dirimu, apakah problema keluargamu yang membuatmu begitu? ataukah mungkin kamu hanya ingin menjauhiku agar aku bisa jauh darimu? atau mungkin ada perkataan orang tentang kita yang kamu dengar?? sungguh jujurlah itu yang ku mau.

Lebaran 2021, aku memberanikan diri untuk silaturahmi ke rumahmu, meskipun awalnya aku mulai ragu. Namun semua keraguanku itu hilang, saat kamu kembali senyum dan keluargamu menerima dengan baik kedatanganku. Hingga di bulan Juni, bulan kelahiranmu.

Saat itu, mungkin kado kedua yang kuberikan untukmu setelah kado pertama yang pernah aku berikan ke kamu di hari ulatng tahun di tahun sebelumnya. Namun kali ini beda, aku memberanikan diri, ku ungkapkan semua apa yang ada, apa yang kurasa, dan apa yang kupendam selama hampir 3 tahun lamanya, yaa perasaan cintaku ke kamu yang mungkin sangat lama terpendam dan tak pernah kamu tahu.

Ku hanya berharap kamu memberikan pilihan yang aku inginkan, namun semua salah, entah . apa karena aku memberikan kado tersebut disaat yang tidak tepat yaitu disaat kita sudah jauh, atau memang kamu tidak mau mengenaliku lagi seperti waktu itu, aku tak tahu. Jawaban, jawaban yang sangat mengecewakanku, yang membuatku sangat terpuruk.

Berhari- hari, minggu ke minggu, semua aku lalui hanya dengan rasa sedihku, setelah ibuku meninggalkanku, kini kamu juga sudah tidak lagi menghias hari-hariku.

Perkataanmu "Mencintai tak harus memiliki, boleh mencinta asal jangan berlebih, karena semua yang berlebihan itu takkan baik dan hanya akan meninggalkan bekas luka" itu selalu terngiang di hati dan pikiranku. 

Apa arti kedekatanku denganmu selama ini? Mengapa engkau membukakan pintu untukku jika akhirnya pintu tersebut harus kamu sendiri yang menutupnya? Ataukah aku yang terlalu berharap lebih untuk mendapatkan cintamu? Apa selama ini aku tidak dapat menjadi bagian penting untukmu? Apakah tak ada sedikitpun perasaan cintamu untukku?

2 Bulan ku lalui tanpa ada lagi rasa, yang ku bisa lakukan hanya meminta maaf diatas makam Almarhumah Ibuku, karena aku tidak bisa memenuhi permintaan harapannya agar aku bisa bersanding denganmu. 

Tahukah kamu apa yang aku rasakan?? Sakit, sedih, ingin kembali kuputar waktu agar aku lebih baik tidak mengenalmu.

Namun,, setelah 6 bulan kumerasakan kelabu, aku berusaha bangkit, berkat dukungan keluarga dan sahabat-sahabatku aku berusaha menata puing-puing hati yang mungkin sangat rapuh karenamu.

Awal Agustus, aku mencoba merespon pesan dari sahabat baiknya sahabat kuliahku, disitu aku mungkin masih canggung, karena aku merasa masih ragu. Tapi mungkin ini semua yang terbaik dari Allah untukku. Meski ragu, tetap ku panjatkan pintaku dalam istikharahku.

Semula, aku tiada sama sekali niat untuk serius, tapi dia langsung mengatakan ijinkan aku menemui ayahmu untuk minta ijin menghalalkanku. Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka ucapan itu bisa dikatakannya, padahal baru hitungan hari aku mengenalnya. Tepat tanggal 11 September dia menyatakan perasaannya kepadaku hari dimana dia mendapatkan ijin dari ayah untuk menjalani hubungan lebih serius denganku.

13 Maret 2022,,  Engagement Day's. iya, aku dilamar olehnya dan kini sudah menjadi titik dimana menuju hari-hari yang lebih menantang, ujian silih berganti datang mengusik. Kini akui hanya menunggu hari bahagiaku.

Terima kasih masa laluku, kamu mengajariku beberapa pelajaran penting untuk hidupku. Terima kasih telah hadir dan pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku.🙏
Kini saatnya aku memulai lembaran baruku dengannya, dan tiba saatnya ku mengucapkan selamat tinggal masa lalu padamu.. 👋

Baiklah,, dari cerita ini aku tulis, hanya untuk mengabadikan moment perjalanan cintaku yang sangat absurd dimana selama lebih dari 2 tahun aku menunggu seseorang yan tidak pasti orang tersebut mencintai atau memiliki rasa yang sama untukku.

So, jika kalian mencintai seseorang memang betul, jangan berlebihan apalagi status kalian tersebut belum ada kejelasan meskipun itu pacar sekalipun, karena waktu dapat merubah segalanya.

Thankyou buat kalian yang sudah berkenan membaca... semoga ada hikmah yang bisa kalian ambil.

Salam Hangat Dariku ....

OV 😘

Follow juga Twitter & IG ku yaaa ~~>> @vindri23

No comments:

Post a Comment